Senin, 25 Juni 2012

Something Vacation: Jembangan Wisata Alam

Akhirnya kesampaian juga pergi ke Jembangan Wisata Alam (JWA). Bersama Wimcycle Roadchamp aku menelusuri pelosok kabupaten Kebumen. Kebumen saja sudah terpencil, bagaimana pelosoknya? But, kita lihat saja nanti. Aku pun belum pernah ke sana, baru dengar namanya dua minggu belakangan ini.

Dari pertemuan jalan lingkar luar utara dan timur Kebumen, di pertigaan Kawedusan, ke arah timur. Jalanan lurus dengan kanan-kiri sawah. Dari papan petunjuk yang ada di perempatan Kalijirek, jarak Wisata Alam Jembangan adalah 13 kilometer. Something long, but not far.

Setelah meninggalkan kecamatan Kebumen dan Alian menuju Kecamatan Poncowarno, jalan mulai berkelok dan bergelombang karena daratan yang berbukit-bukit. Untunglah aku menggunakan sepeda dengan 21 speeds, jadi tidak perlu turun dari sepeda untuk menaklukkan tanjakan yang cukup terjal dan panjang (haha). Apalagi Roadchamp ini merupakan tipe mountain bike (MTB).

Jalanan cukup sepi, tapi sekalinya ada kendaraan selalu berkecepatan tinggi. Di jalanan ini aku sering melepas kedua tangan dari handle-bar (setang sepeda). Merentangkan tangan dan menerpakan badan pada angin sawah. Merasakan damainya angin pedesaan. Mata menikmati alam hijau bukit dan sawah. Something peace.

Sebagian dari isi otak laki-laki adalah peta. Meski daerah ini asing bagiku, dengan melihat papan petunjuk saja, aku bisa sampai ke sana. Papan petunjuk yang ada di setiap persimpangan jalan lebih dari cukup untuk membawa calon turis menuju destinasi wisatanya. Maka, tak perlu bertanya pada orang-orang di sepanjang jalan, Kawan bisa langsung sampai di tujuan.

Jalan yang mengular membuatku kehilangan jejak arah mata angin. Untungnya, aku sampai di lokasi sesaat sebelum waktu dzuhur. Aku menguji kepantasanaku sebagai owner sekaligus founder blog Astro-Traveling INDONESIA. Kali ini aku akan benar-benar berpraktik menentukan arah kiblat hanya berpedoman pada jam dan sedikit pengetahuan (tentu saja).

Aku mengingat-ingat waktu tengah hari, yaitu waktu tepat saat matahari berkulminasi atas (berada di titik paling tingginya), yang kiranya akan terjadi di antara pukul 11.40-11.50. Karena pada tanggal ini matahari masih berada di belahan bumi utara, bayangan terpendek suatu benda akan mengarah ke selatan benar. Aku mendapatkan arah selatan; kudapatkan pula tiga arah utama yang lain: barat, utara, timur. Nah, arah kiblat dari Kebumen itu ada di sekitar 25 derajat ke kanan (utara) dari arah barat. Untuk sudut 25 derajat, ya cukup dikira-kira saja. Tidak ada keharusan untuk akurat menghadap Ka'bah bagi orang-orang yang jauh dari Mekkah. Cukup mengarah ke sana saja.

Arah kiblat hasil pengamatanku ini kucocokkan dengan mushola yang beberapa saat kemudian kutemukan dengan keadaan yang lusuh memprihatinkan. Yah, kurang lebih sama lah arah kiblatnya. Musholanya sangat tidak representatif, menurutku, sebagaimana biasa tempat ibadah di lokasi wisata. Seadanya saja. Tempat wudu dan toiletnya sangat jauh dari kata terjaga, apalagi bersih. Aku sangat sensitif terhadap hal semacam ini. Maka, aku lebih memilih bersuci di air aliran induk Waduk Wadaslintang yang mirip danau ini.
:
Jembangan Wisata Alam ini menawarkan perbukitan sebagai latar belakang pemandangan. Fokus utamanya adalah aliran induk dari Waduk Wadaslintang yang mengalir perlahan. Perairan yang luas ini memang mirip danau kecil. Kombinasi perbukitan (terlalu berlebihan jika aku menyebutnya pegunungan), air melimpah yang mengalir, hawa sejuk, pepohonan yang hijau, sinar matahari yang teduh, dan sangat jauh dari hiruk pikuk keramaian adalah sumber daya tarik pengunjung.

Aku tak membahas soal kuliner dan tetek bengeknya. Selain karena aku hanya membawa uang kas sebesar Rp4.000 (iya, benar hanya ini uang bawaanku).
:
JWA ini berseberangan dengan Bendungan Pejengkolan. Aku ingin ke sana, tapi tidak tahu jalan menuju ke sana. Keluar dari pintu gerbang JWA, aku dapat melihat loket tiket. Aku melihat harga tiket masuk JWA hanya sebesar Rp3.000 per orang. Tadi aku tidak masuk pintu ini. Si Roadchamp ini bisa diajak menelusupi jalan-jalan kecil yang sebenarnya off-road, jadilah aku masuk area JWA tidak melalui pintu semestinya.

Ketika beberapa puluh meter di luar gerbang JWA aku melihat jalan setapak yang menurun dan sepertinya mengarah ke bendungan. Tidak ada salahnya mencoba. Instingku mengatakan, pasti ditemukan kepuasan ketika mencoba berkunjung ke tempat asing. Maka, aku menuruni jalan setapak berkelok yang lebarnya hanya sekitar setengah meter. Asyik juga, serasa sedang downhill. Serius! Adrenalin terpacu. Jalan setapak terus menurun: panjang dan curam. Dan, begitu keluar dari lebatnya pepohonan pekarangan, aku sampai di sisi barat bendungan. Luar biasa, menemukan jalan pintas tanpa sengaja. Aku menuju bendungan.

Di salah satu tepian (sebelah Aliran Induk Wadaslintang Timur), ada bivak-bivak [KBBI: bivak adalah pondok (tempat bermalam) sementara di tengah hutan dsb (bagi tentara dsb)] dari mantel hujan di antara pepohonan yang rindang. Rasa ingin menjalari urat syarafku. Mungkin sedang ada pengukuhan anggota kelompok pecinta alam. Aha! Sepertinya suatu saat aku perlu mencobanya. Solo-camping dengan bivak dalam rangka pengukuhan diri sebagai founder Astro-Traveling INDONESIA.

Setelah berjalan melewati samping kapling bivak-bivak, aku menuju sebuah bangunan itu (entahlah, aku tak memastikan instansi apa itu). Dan, sekilas aku melihat jaket yang familiar. Jaket almamater SMA! Lalu, samar-samar aku melihat seseorang yang kukenal.

Ya Allah, di sudut jauh Kebumen, di tempat yang sangat terpencil ini, aku masih menemukan seseorang yang kukenal! Dia satu almamater SMA yang juga tetangga satu pedukuhan! Alamak. Aku hanya melihatnya; dia tak melihatku (mungkin), jadilah aku tak menemuinya. Aku segera memalingkan diri darinya. Karena, aku tak mencari seseorang. Tapi, aku mencari kesunyian yang sama frekuensinya dengan kesunyian hatiku.

Bahkan aku sedang pergi dari siapa pun yang mengenalku. Atau, jangan-jangan aku sedang berusaha pergi dari diriku sendiri? Yang jelas, aku sedang butuh menyendiri. Pergi ke tempat asing ini, mungkin aku sedang mencari diriku sendiri, sebagian diriku yang hilang, ataupun bagian diriku yang belum yang kutemukan.

Kesimpulan

Pergi ke Jembangan ini, aku hanya kehilangan dua buah baut slebor belakang. Satu hilang saat berangkat, satu hilang saat pulang. Dan aku hanya mengeluarkan uang senilai Rp2.000 yang kubelanjakan untuk sebotol air mineral; itu pun ketika aku pulang dan sudah sampai di pinggiran kota.

Bagaimanapun, Kebumen mempunyai 'bakat' lahir berupa keindahan alam. Frase "wisata alam" yang menyertai nama desa "Jembangan" hanyalah label, karena hampir semua desa di Kebumen (terutama yang pelosok) sebenarnya bisa dijadikan tempat wisata dan, tentu saja, menjadi bagian dari destinasi Astro-Traveling INDONESIA.

Beberapa hal yang kusadari tidak tepat dalam perjalanan kali ini adalah waktu berangkat yang kesiangan, tidak membawa bekal makanan (terutama minuman), dan justru membawa laptop.

Dalam sebuah buku yang indah dan bermanfaat, La Tahzan, dianjurkan untuk sesekali melakukan perjalanan, mengunjungi tempat-tempat asing, pemandangan alam hijau yang terdengar air bergemericik, untuk menghilangkan kejenuhan dan menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan. Sesekali membaca buku di alam terbuka merupakan kegiatan yang sangat istimewa namun sederhana. Apalagi, bermunajat dengan Tuhan dengan membaca kitab yang tiada keraguan di dalamnya. Kebetulan hanya mushaf inilah buku yang kubawa. Maka, kubacalah ia.

Sebenarnya aku ingin menghidupkan laptop dan menulis di alam terbuka. Banyak inspirasi menggoda-goda untuk ditulis. Tapi aku urung; terlalu riskan. Aku hanya mencatat beberapa kata yang penting pada hape butut. Hmmm, sepertinya perlu memiliki typewriter yang transportable. Sayangnya, hape-ku belum mencukupi untuk menulis lebih banyak daripada catatan pendek. (Kapan ya bisa beli? Hiks. Doakan ya, Kawan!)

Sayangnya juga, aku tak punya kamera yang memadai untuk mendokumentasikan perjalanan (doakan juga akan aku bisa segera punya ya!). Kiranya, tulisan ini cukup bisa mewakili untuk tetap memberikan manfaat adanya.

Tapi sungguh, air mengalir yang melimpah ruah, rumput-rumput ramah, tanah-tanah basah, pepohonan yang hijau, amat menenteramkan. Hal-hal yang sederhana itu cukup mewakili gambaran keindahan di sini. Lalu hati ini didera rindu dan penasaran: seperti apa ya telaga Kautsar?
Dan,

Tiada tempat bersembunyi dari bayang-bayang sendiri kecuali kegelapan. Maka, melangkahlah menuju cahaya dan biarkan bayang-bayang mengikuti di belakang dengan terseok-seok yang memayahkan.

Salam hangat dari Kebumen,

Astro-Traveler INDONESIA

2 comments:

Wah... serunya...(^^)\
Jadi pengen main ke sana dan foto-foto Mabruri... ^^

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More